
Musim 2010/2011 adalah musim yang indah bagi Ducati. Pada awal musim mereka berhasil menggaet sang maestro Valentino Rossi. Penjualan naik secara signifikan meskipun keadaan ekonomi dunia sedang buruk. Di ajang balap superbike, Carlos Checa dengan Ducati 1098 (yang notabenene teknnologinya sudah berumur 4 tahun, cukup usang untuk ukuran superbike) mendominasi balapan hampir sepanjang musim. Dan itu dia lakukan bersama tim privateer! Meski akhirnya Rossi gagal total dalam kompetisi MotoGP, kontribusinya dalam mengembangkan motor tidak bisa diremehkan begitu saja. Dan inilah kado penutup akhir tahun yang luar biasa ini, 1199 Panigale. Ya, tanggal 10 November kemarin akhirnya Ducati secara resmi memperkenalkan Panigale di event EICMA International Motorcycle Show.
(gambar-gambar berikut adalah properti asphaltandrubber.com, diambil tanpa izin dulu)



Perhatikan baik-baik gambar di atas. Ada yang aneh? Jelas! Ducati adalah pabrikan yang memegang erat tradisi. Sasis tubular trellis, knalpot undertail, pro arm, mesin dua silinder dengan konfigurasi 90 derajat, katup desmodromic, kopling kering, adalah ciri khas yang selama ini melekat dalam produk premium Ducati. Namun Panigale banyak melanggar tradisi itu.
Tidak ada lagi knalpot undertail. Sebagai gantinya duo knalpot pendek diletakkan di bagian kolong manghadap kiri-kanan. Ini semata-mata untuk memusatkan center of gravity. Sasis tubular trellis dilengserkan oleh teknologi sasis monocoque yang menggabungkan sasis dan mesin menjadi satu kesatuan. Tambahkan suspensi full elektronik Öhlins di depan dan TTX di belakang. Maka dijamin Panigale menawarkan handling mantap nan stabil.
Di sektor mesin Ducati masih mengandalkan mesin dual silinder 90 derajat. Panigale memakai mesin yang sama sekali baru bercode name Superquadro dengan dimensi bore x stroke 112 x 60,8 mm. Tidak salah jika dinamakan Superquadro karena perbandingan diameter silinder yang jauh melampaui jarak langkah (oversquare). Superquadro mampu menyemburkan tenaga sebesar 195 hp pada 10.750 rpm dan torsi 133 Nm pada 9000 rpm. Brutal! Dengan bobot kosong hanya 164 kg, Panigale mempunyai power to weight ratio (PWR) yang sangat impresif: 1.219. Bandingkan dengan mobil F1 Renault 2006 yang mempunyai PWR 1,250. Dan ingat, ini adalah motor legal untuk dipakai di jalanan. Gila? Sepertinya begitu. Dan, akhirnya, Ducati meninggalkan kopling kering. Sebagai gantinya adalah kopling basah dengan teknologi slipper clutch yang membutuhkan lebih minim perawatan.
Dengan power sebesar ini tentu tidak mudah mengendalikan monster ini di jalanan. Untuk itu Ducati melengkapi Panigale dengan berbagai macam piranti elektronik untuk membantu rider, termasuk diantaranya fly by wire throttle, traction control (DTC), quick shifter elektronis (DQS), ABS, adaptive electronic suspension, dan electronic engine brake control. Meskipun begitu motor ini jelas bukanlah motor untuk pemula!
Tahun 2012 nampaknya akan menjadi tahun yang menyenangkan bagi dunia balap motor. MotoGP berganti nama menjadi Moto1, dengan mesin baru 1000cc dan juga aturan-aturan baru yang semoga saja bisa meratakan peta persaingan. Di ajang superbike kiprah 1199 Panigale sangat dinanti tahun depan, dan pabrikan lain tentu tak akan tinggal diam. Mungkin saja akan ada yang iseng mengawinkan mesin Superquadro dengan sasis Suter atau Moriwaki dan mendaftar sebagai claiming rule team Moto1. Semoga
NB: Sasis monocoque bukanlah hal baru dalam dunia motor. Bahkan masyarakat Indonesia sudah sejak lama menikmatinya, tepatnya di sekitaran tahun 1970 dari pabrikan Honda. Ya, Honda C70 dan kawan-kawan motor bebek pada masa itu masih menggunakan sasis monocoque. Teknologinya sudah pasti jauh berbeda dengan monocoque Ducati ini, tapi monocoque is monocoque, eh?

Sasis monocoque pada masa kejayaannya