The Mototrcycle Diaries: Stowaways

"At night, after the exhausting games of canasta, we would look out over the immense sea, full of white-flecked and green reflections, the two of us leaning side by side on the railing, each of us far away, flying in his own aircraft to the stratospheric regions of his own dreams. There we understood that our vocation, our true vocation, was to move for eternity along the roads and seas of the world. Always curious, looking into everything that came before our eyes, sniffing out each corner but only ever faintly — not setting down roots in any land or staying long enough to see the substratum of things; the outer limits would suffice."

“At night, after the exhausting games of canasta, we would look out over the immense sea, full of white-flecked and green reflections, the two of us leaning side by side on the railing, each of us far away, flying in his own aircraft to the stratospheric regions of his own dreams. There we understood that our vocation, our true vocation, was to move for eternity along the roads and seas of the world. Always curious, looking into everything that came before our eyes, sniffing out each corner but only ever faintly — not setting down roots in any land or staying long enough to see the substratum of things; the outer limits would suffice.”

Cerita tentang Kawan (2)

Nggk mau nyebutin nama, nanti orangnya kegeeran. Trus kepalanya jadi gede, jalan miring-miring keberatan kepala, kan repot..

Terserah kalau kau mau menyebut saya berlebihan. Tapi entah apa yang saya lakukan sekarang kalau nggk ada dia. Mungkin cuma bangun-kerja-tidur, sama internetan, seperti dulu.. Membosankan. Entahlah, saya waktu itu bingung mau kemana lagi. Rasanya apa yang saya capai dan tidak, itu sudah cukup. Saya nggk pengen apa-apa lagi. Meminjam istilahnya Blur, I got no distance left to run.

Dia itu seperti seberkas cahaya di ujung lorong yang gelap dan panjang. Jauh, kecil, tapi ada; meyakinkan saya bahwa di ujung sana ada tempat terang dimana bisa memantapkan langkah tanpa takut terperosok lagi, dimana semuanya akan terasa menjadi begitu mudah. Dan yang paling penting saya menjadi tau betul kemana arah harus berlari.

Tapi.. realistis aja sih. Happy ending biasanya hanya ada dalam dongeng, dan ini bukan dongeng. Kalaupun itu benar terjadi, tak masalah. Setidaknya saya tak akan menyesal karena hanya berdiam diri menunggu nasib mengulurkan tangan. Saya kepengen tertawa di akhir usaha, apapun hasilnya nanti.

Sudah ya nggk usah banyak-banyak, saya mau lari lagi, hehe

Jalan Ironi

Dulu waktu masih SD musim hujan begini adalah waktu-waktu favorit. Jarak rumah — sekolah kurang lebih 2 kilometer, dan itu ditempuh lewat jalan kaki. Jalan desa waktu itu belum beraspal melainkan hanya berupa susunan batu dan kerikil di atas tanah. Orang biasanya menyebut jalan seperti ini sebagai jalan makadam. Ketika hujan turun lama maka yang tadinya jalanan berubah menjadi mirip bekas sungai yang tak lagi dialiri air, atau dengan kata lain; adonan lumpur dan batu. Maka jadilah kami bangun pagi-pagi, mandi, sarapan, berseragam, lalu berangkat dengan sepatu ditenteng (atau bahasa gaulnya nyeker). Sayang banget kalau sepatu kena lumpur.

Nah jika hujan sampai berhari-hari maka sepanjang perjalanan kami jadi ada hiburan: nonton mobil selip! Mendengar raungan mobil-mobil tua, bau sangit ban kebakar, juga lumpur dan kerikil yang terlontar itu entah kenapa rasanya seru. Dan ini bisa berlangsung hingga berjam-jam. Makin seru ketika kami menyoraki mas-mas yang ngedorong mobil selip tadi. Jangkrik tenan, mungkin begitu pikir mereka.

Berbeda dengan kami anak-anak SD, kebanyakan orang merutuki jalan makadam seperti ini. Bagaimana tidak, mobil yang semula berangkat ke arah utara bisa sampai berbalik menghadap selatan karena selip. Di dalamnya, ibu-ibu yang tadi bangun petang dan repot berdandan mesti rela dandanannya luntur akibat keringat dan menahan napas gugup kalau-kalau mobil nyemplung ke selokan. Sesampainya di pasar hari sudah terik, pasar sudah mulai sepi dan sayuran yang tersedia tinggal sisa-sisa. Itu belum ditambah bau kecut baju. Begitu juga anak-anak SMP dan SMA nasibnya tak lebih beruntung dari ibu-ibu tadi.

Bicara soal makadam, tidak banyak yang tahu bahwa ini adalah salah satu teknik konstruksi jalan yang termasyur pada masanya. Tak banyak yang tau juga bahwa makadam bukanlah buah cipta orang Indonesia. John Loudon McAdam, seorang surveyor kelahiran Skotlandia, memperkenalkan teknik ini pada 1820. Makadam terbilang revolusioner pada masanya karena kesederhanaan dan durabilitasnya. Teknik yang umum digunakan waktu itu adalah menggunakan beberapa lapis batu yang tersusun dengan pola tertentu yang rumit sehingga kokoh. Akibatnya butuh banyak material dan butuh waktu pengerjaan yang lama pula. Sebaliknya, makadam menggunakan tanah biasa sebagai dasar. Lalu diatasnya disusun batu ukuran kecil secara rapat. Celah-celah yang tersisa diisi dengan kerikil dan pasir hingga padat. Agar lebih padat dan rata, makadam yang telah disusun dilindas dengan mesin pemadat aspal. Nama resminya compactor. Namun kami lebih sering menyebutnya sebagai, slender…

slendervslender

Slender dalam bhs Inggris artinya ramping, padahal ini nggk ramping sama sekali. Saya curiga sebutan slender ini sebenarnya berasal dari kata silinder..

***

Bertepatan dengan peralihan saya dari SMP ke SMA, makadam mulai dilengserkan. Ceritanya waktu itu ada dana bantuan dari pemerintah untuk perbaikan jalan tapi entah kenapa tiap kepala keluarga masih ditarik iuran untuk tambahan dana. Lumayan, kisaran ratusan ribu secara progresif tergantung luas tanah yang dimiliki. Tapi warga tak berkeberatan. Mungkin sudah lelah dengan makadam yang merepotkan. Ini agak menggelitik sebenarnya… Ternyata yg mereka maksud jalan “aspal” itu adalah teknik pengerasan jalan yang mirip dengan makadam biasanya tetapi diperkuat dengan perekat. Perekat yang digunakan pun bukan aspal melainkan tar yang dicairkan. Jadi jalan “aspal” yang mereka sebut itu sebenarnya tidak mengandung aspal sama sekali… Sedangkan proses pengasplan yang umum melibatkan adonan aspal, kerikil dan batu yang diaduk di dalam mesin pemanas kemudian dituang sambil diratakan ke jalan. Teknik ini disebut hot mix, orang biasanya menyebut sebagai HK. Entah dapet huruf K darimana.

Setelah jalan “aspal” itu selesai warga bangga dengan jalan yang sekarang tidak berdebu lagi di kala kemarau dan berlumpur kala hujan. “Sudah tidak makadam lagi,” begitu kata mereka sambil menyebutkan sederet kejelekan jalan makadam yang dulu. Padahal teknik konstruksi seperti itu adalah salah satu varian makadam yang dikenal sebagai tar-bound macadam, sebagian orang menyebutnya sebagai tarmac. Ironis memang. Mungkin kalau mbah McAdam masih hidup dan mampir ke desa beliaunya akan mencak-mencak nggk terima.

Mengelola Ekspektasi

Minggu kemaren saya naik kereta dari Malang ke Pasar Senen. Sengaja memilih yang jadwal tibanya paling pagi; 05.26 WIB. Saya pikir kalaupun telat masih kekejar lah. Salah besar! Tercatat jam 08.03 baru sampai stasiun Senen. Dari sana ke kosan masih butuh waktu sekitar satu jam, belum lagi waktu buat bebersih. Jadilah pada hari itu saya telat dua jam. Rekor bung. Jelas kecewa, saya yakin juga banyak penumpang lain yang kecewa.

Setelah ditelusuri memang kereta tersebut sudah biasa telat. Lah kalau begitu kenapa nggk ditulis saja kalau jadwal kedatangannya jam 08.00? Kalaupun nantinya bisa datang lebih pagi saya yakin lebih banyak yang suka ketimbang protes. Ini jauh lebih baik daripada memberi ekspektasi yang saya kira sulit terpenuhi itu. Bayangkan ada berapa orang dari 10 gerbong (kalau saya tidak salah ingat) kereta yang sudah merancang acara paginya waktu itu; ada yang lanjut kerja, ada yang dikejar jadwal kuliah, ada yang janjian dengan orang lain, macem-macem. Semuanya dikecewakan. Padahal jika dicantumkan dari awal bahwa jadwal kedatangan kereta jam 08.00 misalnya, pasti bisa dicari solusinya atau bahkan ganti naik kereta yang lain sekalian.

“Namanya juga kereta ekonomi, telat itu biasa karena jalurnya nggk diprioritaskan.” Well, rasanya hanya orang abnormal yang menyebut terlambat dua setengah jam itu “biasa”. Justru karena nggk diprioritaskan seharusnya KAI tau bahwa jarak Malang-Senen tidak mungkin ditempuh dalam 16 jam dan segera merevisi jadwal kedatangannya. Satu lagi, status kelas ekonomi seharusnya tidak menjadi alasan untuk menurunkan kualitas layanan. Rasanya hanya tinggal menunggu saja suatu hari ada penumpang yang menuntut KAI secara perdata jika hal ini tidak berubah.

***

Bicara soal ekspektasi, ini adalah salah satu kata yang menjadi momok bagi saya. Saya takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain. Saya merasa saya ini orang yang biasa-biasa saja, dangkal, tidak memiliki bakat spesifik, mediocre at best. Kadang hal ini sampai membuat saya membatasi interaksi dengan orang lain karena khawatir membuat mereka kecewa setelah tau bahwa saya tidak se-[masukkan kata sifat disini] yang mereka kira.

Knowing is half the battle. Setidaknya saya tau masalahnya dimana. Sekarang tinggal mencari solusinya. Mungkin bisa dimulai dengan berusaha memenuhi apa yang orang-orang harapkan akan saya. Semoga..